Menghabiskan Malam di Pasar Semawis Semarang

Pergi ke Semarang,   maka bertandang ke  Pasar Semawis  adalah sebuah kewajiban. Kenapa begitu? Karena Pasar Semawis, atau dikenal juga sebagai Waroeng Semawis, adalah pasar  malam dan juga pusat jajanan terpanjang di Semarang. Lokasinya beradadi sepanjang Gang Warung, tepatnya di jantung Pecinan Kota Semarang. Dalam bahasa Jawa, Semawis adalah nama lain untuk Kota Semarang, tapi dalam beberapa versi sering juga diartikan sebagai Semarang untuk Pariwisata.

Nah, itulah informasi yang saya dapatkan setelah “blusukan” di internet. Hehe..!!

Untuk mencapai Semawis, tentunya kita harus menuju Semarang dulu dong. Lantaran saya tinggal di Jakarta, maka saya pilih pesawat sebagai transportasi pilihan yang lebih cepat. Setelah beberapa menit blusukan di internet, akhinya saya memutuskan untuk memesan di Traveloka.com. Baik itu tiket pergi mau pun tiket pulangnya. Kenapa Traveloka.com? Kayanya gak perlu dijelasin lagi deh soal OTA yang satuini. Harga tiket sriwijaya air biasanya murah dan harganya juga “jujur”. Persis kaya yang kita lihat di iklannya.

Oke, lanjut ke perjalanan. Berangkat Sabtu siang dari Jakarta dan beberapa saat kemudian sampai di Bandara Achmad Yani, gak pake lama langsung tancap gas naik taksi ke Semawis. Seakan-akan tak sabar menikmati sajian kuliner yang tersaji di tempat itu, tak sadar air liur sudah membasahi bibir. Beuhh, lebay..!!

Sedikit cerita tentang Pasar Semawis. Pasar malam ini pertama kali digelar ketika Pasar Imlek Semawis 2004, dan sampai sekarang tetap menjadi pusat jajanan terpanjang di Semarang.Baik itu makanan dengan kategori ringan, berat, tradisional bahkanmodern. Berawal dari ide Komunitas Pecinan Semarang untuk Pariwisata.

Perjalanan saya di Pasar Malam Semawis yang digelar tiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu malam mulai pukul 6 sore ini berawal dari Gang Warung.Terlihat tenda-tenda berjejer yang mayoritas menjajakan makanan dan minuman. Bukan Cuma itu, ada beberapa tenda ada menjual pernak-pernik atau perhiasan, bahkan kaos.Butuh hiburan? Ada yang unikloh. Di salah satu tenda menawarkan karaoke bagi pelancong untuk mengeluarkan suara emasnya.

Akhirnya Makan

Setelah beberapa lama menyusuri sambil nengok kanan-kiri di Gang Warung, pilihan saya jatuh ke nasi ayam Hainan dengan sajian minum teh liang. Maklum, perjalanan lumayan jauh dari Jakarta mengharuskan perut ini diisi full tank.

Ternyata, tidak hanya makanan khas lokal saja yang tersaji di sini. Beberapa kuliner asal daerah lainnya seperti pempek dari Palembang,  pecel dan tumpang khas Nganjuk,  gudeg dari Yogyakarta, dan makanan khas daerah nusantara bisa kita nikmati di sini. Tapi yang ramai dikunjungi tentunya makanan khas Semarang, seperti lumpia, tahu gimbal, dan pisang planet.

Begitu juga dengan minumannya. Selain teh liang yang jadi pilihan saya, beberapa jenis wedhangan sebagai penghangat ketika malam bisa kita jumpai di pasar malam ini. Namun, kalau ingin minuman dingin pun tersedia.Seperti Es teh, susu kedelai dingin (hangat juga ada sih..), dawet, dan sebagainya.

Hari semakin malam ternyata bukan makin sepi. Waroeng Semawis semakin larut semakin menunjukkan kekhasannya. Mulai dari muda mudi yang menikmati malam sambil bercanda ria bersama teman, plus ditemani wedhangan, turis domestik (macem saya ini..), bahkan beberapa bule yang kadang berseliweran menarik pemandangan pengunjung lokal Semawis.

Akhirnya, mata ini gak bisa diajak kompromi. Keramaian Waroeng Semawis tak bisamembuat mata ini tetap standby 100%. Perjalanan malam saya di tempat ini harus berakhir di pukul 00:32 waktusetempat.